Tuesday, November 4, 2014

Kisah Inspirasi "Bocah dan Paku"

Konon Ahmad adalah bocah yang sulit
diatur… sifatnya yang gampang marah dan keras
kepala, menjadikannya sering bertengkar dan
berkata kasar kepada orang lain.
Sutau ketika, ayahnya memanggilnya lalu
memberikan sekantong paku kepadanya; “Nih,tiap
kali kau bertengkar atau berkata kasar kepada
siapa pun, tancapkan sebatang paku di pagar itu”
kata ayahnya.
Di hari pertama, Ahmad menancapkan
sebanyak 32 batang paku di pagar… dan setelah
seminggu berlalu, ia demikian terkejut melihat
banyaknya paku-paku yang tertancap di pagar. Ia
pun memutuskan untuk lebih mengendalikan
dirinya dan mengurangi jumlah paku yang harus
dia tancapkan tiap hari.
Ternyata benar, ia berhasil mengurangi
jumlah paku yang harus ditancapkannya tiap
hari… dan saat itulah ia mulai sadar bagaimana
cara mengendalikan diri.
Baginya, hal tersebut lebih mudah dari
pada harus menancapkan paku di pagar setiap
hari.
Demikian Si Ahmad melalui hari-hari
berikutnya… hingga tibalah suatu hari dimana ia
tidak lagi menancapkan sebatang pakupun di
pagar! Ketika itulah Ahmad melapor kepada
Ayahnya, dan mengatakan bahwa ia tidak perlu
lagi menancapkan sebatang paku pun…
Sang Ayah pun berkata kepadanya:
“Hmm… baiklah, sekarang cabutlah sebatang paku
setiap harinya, jika kamu berhasil melewati hari
itu tanpa berkata kasar atau bertengkar dengan
siapa pun…”
Hari demi hari berlalu cukup lamahingga
akhirnya Ahmad berhasil mencabut seluruh paku
tersebut. Ia pun melapor kepada ayahnya bahwa
seluruh paku di pagar telah dicabutnya kembali.
Maka Sang ayah mengajaknya ke pagar
sembari berkata: “Hmm, bagus bagus…
kerjaanmu cukup baik… tapi, coba perhatikan
lubang-lubang bekas paku yang kau tancapkan di
pagar, ia takkan kembali seperti sedia kala!
Wahai Anakku… ketika kamu bertengkar dan
marah dengan seseorang, kamu akan
mengeluarkan kata-kata yang tidak baik… kamu
meninggalkan mereka dengan luka yang dalam
seperti lubang-lubang yang kau lihat ini… benar,
kau bisa saja menikam seseorang lalu mencabut
pisau tadi dari perutnya; akan tetapi, kau pasti
akan meninggalkan bekas luka yang dalam!
Karenanya, percuma saja kamu menyesali
perbuatanmu itu berkali-kali, karena toh bekas
lukanya tetap ada, dan ingatlah bahwa luka
akibat lisanmu adalah lebih menyakitkan dari pada
tikaman”.

Al Mutanabbi mengatakan:ُ
Luka karena senjata dapat sembuh kembali,
Namun takkan sembuh bila lisan yang melukai [1]
Semoga Anda terinspirasi dengan kisah di atas…

No comments:

Post a Comment