Monday, November 3, 2014

Menularkan Kebahagian

Seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari. Memanggil taksi, dan naik...
"Selamat pagi Pak..." katanya menyapa sang sopir taksi terlebih dulu.
"Pagi yg cerah bukan?" sambungnya sambil tersenyum.
Lalu bersenandung kecil...

Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dg senang hati, Ia melajukan taksinya.
Sesampainya ditempat tujuan, pemuda itu membayar dg selembar 50 ribuan, untuk argo yg hanya hampir 15 ribu.

"Kembaliannya buat Bapak saja... selamat bekerja Pak.." kata pemuda dg senyum.
"Terima kasih..." jawab Pak sopir taksi dg penuh syukur.

"Wah.. aku bisa sarapan dulu nih..."
Pikir sopir taksi itu. Dan ia pun menuju kesebuah warung.

"Biasa Pak?" tanya si mbok warung.
"Iya biasa. Nasi sayur. Tapi.. Pagi ini tambahkan sepotong ayam " jawab Pak sopir dg tersenyum.

Dan, ketika membayar nasi , ditambahkannya lima ribu rupiah  "Buat jajan anaknya si mbok... " begitu katanya.

Dengan tambahan uang jajan lima ribu, pagi itu anak si mbok berangkat kesekolah dg senyum lebih lebar.

Ia bisa membeli  2 buah roti pagi ini. Dan diberikannya pd temannya yg tidak punya bekal.

Begitulah. Cerita bisa berlanjut. Bergulir seperti bola salju...

Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu. Begitu juga keluarga si mbok. Teman si anak. Keluarga mereka. Semua tertular kebahagiaan.

Kebahagiaan, seperti juga kesusahan, bisa menular pd siapa saja disekitar kita.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Siapkah kita menularkan kebahagiaan hari ini?

Bisa menerima itu adalah Berkah. Tapi bisa memberi adalah Anugerah.

Semoga sisa hidup kita selalu bahagia dan membuat orang lain bahagia dg keberadaan kita.

No comments:

Post a Comment