Sunday, November 23, 2014

NASEHAT LUKMAN AL HAKIM KEPADA ANAKNYA

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Al-Qur'an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup.

Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.

Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu, dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.

Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.

Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.

Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.

Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.

Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah :
1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.

Semoga bermanfaat...

Monday, November 17, 2014

Larangan Mencari-Cari Aib Orang Lain

Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانَهِ وَلَمْ يَفْضِ الإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا المُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوا وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبَعِ اللهُ يَفْضَحْهُ لَهُ وَلَو في جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, 

janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. 

Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” 
QS. Al-Hujurat : 12

Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya.

Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya. Mengutip perkataan Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi.

Sunday, November 16, 2014

Cerita motivasi: Peta Harta Karun

Seorang pria dewasa sedang berjalan-jalan di pantai. Pria itu lalu melihat sebuah botol kaca, lalu ia pun memungutnya dan melihat ada secarik kertas di dalam botol.
 
Dia kemudian menarik gabus penyumbat botol dan menemukan bahwa kertas tersebut ternyata sebuah peta harta karun. Tetapi pria itu tidak percaya, sehingga ia memasukkan peta harta karun itu kembali dalam botol, menyumbat botol, dan melemparkan botol itu ke laut.
 
Beberapa saat kemudian, pria dewasa lain sedang berjalan di pantai dan melihat botol itu. Dia juga mengambil botol, membukanya, dan menemukan peta harta karun. Orang ini cukup penasaran dengan harta karun tersebut. Ia mencoba berjalan menuju tempat yang ditunjukkan peta tersebut, yaitu sekitar 30 meter ke tengah laut.
 
Tetapi ketika tinggi air laut mencapai paha, ia memutuskan untuk berhenti. Ini cuma jebakan katanya. Jadi, ia bergegas kembali ke tepi pantai dan membuang botol itu kembali ke laut.
 
Beberapa saat kemudian pria dewasa ketiga berjalan di tepi pantai dan melihat botol kaca itu terapung di air. Ia mengambil, membukanya, dan menemukan peta. Ia pun bertanya-tanya sebanyak apakah harta karun yang disebutkan di peta itu. “Hmm, peta ini cukup menjanjikan.” katanya. Aku akan berusaha mencari harta karun ini! Ia lalu menyewa perahu dan menuju ke tempat yang ditunjukkan peta tersebut.
 
Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan peta, dia melihat bahwa tampak ada sesuatu di bawah air yang menyerupai peti harta karun. Ia lalu menceburkan dirinya ke laut dan menyelam menuju benda bersinar itu. Tetapi ternyata lokasi peti harta karun itu jauh lebih dalam dari perkiraannya. Ia hampir kehabisan nafas. Ia lalu bergegas kembali ke perahu dan menyerah. Lantas botol berisi peta itu diambilnya, ditutup, lalu dilemparkannya kembali ke laut.
 
Setelah itu, ada satu pria dewasa lagi berjalan-jalan di tepi pantai. Seperti pria sebelumnya, ia juga melihat botol itu, membukanya, dan menemukan peta harta karun. Ia sangat bersemangat untuk menemukan harta karun tersebut. Ia melihat ada perahu di tepi pantai dan ia lalu menggunakan perahu tersebut untuk menuju ke tempat yang ditunjukkan peta.
 
Setelah sampai di tempat yang dimaksud, ia lalu menceburkan diri ke laut dan menyelam menuju ke peti harta karun. Tetapi ternyata lokasi peti itu sangat dalam dan nafasnya tidak mungkin bisa menjangkaunya. Maka ia memutuskan kembali ke perahu. Ia lalu kembali ke pantai dan menyewa perlengkapan selam. Kemudian ia mendayung perahunya kembali ke tempat harta karun.
 
Dengan perlengkapan selam lengkap ia kembali menyelam menuju ke peti harta karun dan membawanya ke perahu. Matanya berbinar-binar ketika melihat peti harta karun itu penuh berisi emas dan berlian.
 
Kisah ini mengingatkan kepada kita untuk jangan cepat menyerah, apalagi sebelum mencapai garis akhir. Mungkin kita pernah gagal di masa lalu, tapi bukan berarti kita ditakdirkan untuk gagal. Dengan pantang menyerah, keberhasilan pasti kita raih.

Kisah mengharukan: Kisah Seorang Gadis Buta

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
 
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.
 
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu, yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu.
 
Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu, ”Sayaaaang, sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.
 
Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”
 
Gadis itu menangis dan menyadari kebodohannya, betapa besar pengorbanan kekasihnya selama ini tapi kekasihnya telah pergi dengan membawa luka dihati.
 
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Nikmat Rabb mu yang manakah yang kamu dustakan?

Seorang bapak berusia 70 tahun menderita tidak bisa buang air kecil selama beberapa hari. Setelah bertambah rasa sakitnya, bapak itu mendatangi dokter spesialis. Maka dokter meminta kepada bapak itu agar di operasi dan bapak itupun menyetujui. Setelah selesai di operasi dan berhasil, maka dokter memberikan tagihan rumah sakit kepada bapak itu. Bapak itu melihat isi tagihannya, maka menangislah bap…ak itu. Dokter pun berkata kepada bapak itu, “Jika tagihan tersebut memberatkan anda, saya bisa meringankannya untuk anda.” Maka bapak itu menjawab, “Bukan itu yang membuat aku menangis. Yang membuat aku menangis adalah bahwa Allah telah memberi aku nikmat untuk bisa buang air kecil selama 70 tahun, dan Allah tidak pernah mengirimkan tagihan apapun kepadaku untuk membayarnya.” (Sumber kisah dari majalah Qiblati).

Subhanallah…

Hendaknya kita senantiasa untuk selalu bersyukur kepada Allah baik dikala suka maupun duka, karena terlalu besar nikmat2 yang telah diberikan Allah kepada kita.

Mata kita bergerak sekitar 100ribu kali dalam sehari atau sama dengan sejauh 80 km kaki kita melangkah, apakah kita bersyukur?

Jari kita bergerak ratusan ribu sehari dan kita gunakan untuk mengetik, memasak, bekerja, menggaruk, dsb, apakah kita bersyukur?

Kaki kita melangkah bisa mencapai puluhan km perhari baik diluar atau di dalam rumah, apakah kita bersyukur?

Testikel pria bisa menghasilkan 10 juta sperma baru setiap hari, dan jika dibuat perbandingan maka bisa untuk menggantikan jumlah seluruh manusia dibumi saat ini dalam waktu 6 bulan, apakah kita bersyukur?

Jantung kita berdetak sekitar 115ribu kali dalam sehari, dan ini berlangsung seumur hidup! Ibarat baterai yang sangat kuat, apakah kita bersyukur?

Urine (air kencing) manusia bisa mencapai 500 liter dalam setahun. Jika seseorang mengeluarkan biaya sekitar Rp.10juta untuk biaya operasi akibat tidak bisa buang air dalam sehari, maka bagaimana jika orang itu tidak mampu buang air seumur hidup? Berapa biaya yang harus dia keluarkan? Apakah kita bersyukur?

Kita bernafas 20 kali dalam 1 menit, berarti kalau dalam sehari kita bernafas sebanyak 28.800 kali!
Sekali bernafas memerlukan 0,5 liter udara. Berarti dalam sehari kita membutuhkan 14.400 liter udara!
Udara yang kita hirup terdiri dari 20% oksigen dan 79% nitrogen, berarti sekali nafas kita membutuhkan 100 ml oksigen dan 395 ml nitrogen. Maka dalam sehari kita membutuhkan 2.880 ltr oksigen dan 11.376 ltr nitrogen. Jika harga oksigen senilai Rp.25.000 perliter dan nitrogen Rp.9.950 perliter, maka udara yang dihirup oleh kita dalam sehari setara dengan uang Rp.176,6 juta, dalam sebulan sejumlah Rp.5,3 milyar, dan dalam setahun Rp.63,6 milyar!!
Apakah kita bersyukur?

“Fabiayyi alaa’i rabbikuma tukadzdzibaan”

Maka nikmat Rabb mu yang manakah yang kamu dustakan?
(Qs. Ar Rahman: 13).

Friday, November 7, 2014

Berpikirlah Sebelum Berbicara

Sebuah Kisah penuh hikmah yang selaras dengan Al-Qur’an & Sabda Rasulullah Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam. Berikut ini kisahnya, semoga menjadi pelajaran penting buat kita semua.
Di sebuah desa, seseorang telah menyebarkan isu bahwa tetangganya adalah seorang pencuri. Akibatnya pemuda, tetangganya itu, ditangkap. Beberapa hari kemudian pemuda itu terbukti tidak bersalah. Setelah dibebaskan ia menggugat orang tua yang salah menuduhnya.
Di pengadilan orang tua itu mengatakan kepada Hakim, “Mereka hanya komentar, dan tidak membahayakan siapa pun.” Hakim mengatakan kepada orang tua itu, “Tuliskan semua hal yang Anda katakan tentang pemuda itu di selembar kertas. Potonglah, dan dalam perjalanan pulang, lemparkan potongan kertas itu. Besok, kembalilah untuk mendengarkan pernyataan.”
Hari berikutnya, hakim mengatakan kepada orang tua itu, “Sebelum menerima pernyataanku, Anda harus keluar dan mengumpulkan semua potongan-potongan kertas yang Anda buang kemarin.”
Orang tua itu berkata, “Saya tidak bisa melakukan itu! Angin telah menyebarkannya dan saya tidak tahu di mana akan menemukan kembali potongan kertas itu.”
Hakim itu kemudian berkata, “Dengan cara yang sama, komentar sederhana dapat merusak seseorang sedemikian rupa sehingga seseorang tidak mampu memperbaikinya. Jika Anda tidak dapat berbicara tentang kebaikan seseorang, lebih baik jangan katakan sesuatu pun.”
Berikut dalil dalam Al-Qur’an & As-Sunnah yang menegaskan kisah tersebut ;
Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]
Dalam ayat lain disebutkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]
Allah juga berfirman.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]
Begitu juga firman Allah Ta’ala.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Dala kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَأكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ اَفَرَاَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنَّ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِاغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَهُ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”
Allah Azza wa Jalla berfirman.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَمَحَااَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ
“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” [2]
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz.
إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.
Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda.
مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”
Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Semoga bisa diambil hikmah & Surah & Haditsnya dijadikan penuntunt dalam hidup.

Tuesday, November 4, 2014

Kisah Inspirasi "Bocah dan Paku"

Konon Ahmad adalah bocah yang sulit
diatur… sifatnya yang gampang marah dan keras
kepala, menjadikannya sering bertengkar dan
berkata kasar kepada orang lain.
Sutau ketika, ayahnya memanggilnya lalu
memberikan sekantong paku kepadanya; “Nih,tiap
kali kau bertengkar atau berkata kasar kepada
siapa pun, tancapkan sebatang paku di pagar itu”
kata ayahnya.
Di hari pertama, Ahmad menancapkan
sebanyak 32 batang paku di pagar… dan setelah
seminggu berlalu, ia demikian terkejut melihat
banyaknya paku-paku yang tertancap di pagar. Ia
pun memutuskan untuk lebih mengendalikan
dirinya dan mengurangi jumlah paku yang harus
dia tancapkan tiap hari.
Ternyata benar, ia berhasil mengurangi
jumlah paku yang harus ditancapkannya tiap
hari… dan saat itulah ia mulai sadar bagaimana
cara mengendalikan diri.
Baginya, hal tersebut lebih mudah dari
pada harus menancapkan paku di pagar setiap
hari.
Demikian Si Ahmad melalui hari-hari
berikutnya… hingga tibalah suatu hari dimana ia
tidak lagi menancapkan sebatang pakupun di
pagar! Ketika itulah Ahmad melapor kepada
Ayahnya, dan mengatakan bahwa ia tidak perlu
lagi menancapkan sebatang paku pun…
Sang Ayah pun berkata kepadanya:
“Hmm… baiklah, sekarang cabutlah sebatang paku
setiap harinya, jika kamu berhasil melewati hari
itu tanpa berkata kasar atau bertengkar dengan
siapa pun…”
Hari demi hari berlalu cukup lamahingga
akhirnya Ahmad berhasil mencabut seluruh paku
tersebut. Ia pun melapor kepada ayahnya bahwa
seluruh paku di pagar telah dicabutnya kembali.
Maka Sang ayah mengajaknya ke pagar
sembari berkata: “Hmm, bagus bagus…
kerjaanmu cukup baik… tapi, coba perhatikan
lubang-lubang bekas paku yang kau tancapkan di
pagar, ia takkan kembali seperti sedia kala!
Wahai Anakku… ketika kamu bertengkar dan
marah dengan seseorang, kamu akan
mengeluarkan kata-kata yang tidak baik… kamu
meninggalkan mereka dengan luka yang dalam
seperti lubang-lubang yang kau lihat ini… benar,
kau bisa saja menikam seseorang lalu mencabut
pisau tadi dari perutnya; akan tetapi, kau pasti
akan meninggalkan bekas luka yang dalam!
Karenanya, percuma saja kamu menyesali
perbuatanmu itu berkali-kali, karena toh bekas
lukanya tetap ada, dan ingatlah bahwa luka
akibat lisanmu adalah lebih menyakitkan dari pada
tikaman”.

Al Mutanabbi mengatakan:ُ
Luka karena senjata dapat sembuh kembali,
Namun takkan sembuh bila lisan yang melukai [1]
Semoga Anda terinspirasi dengan kisah di atas…

Monday, November 3, 2014

Menularkan Kebahagian

Seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari. Memanggil taksi, dan naik...
"Selamat pagi Pak..." katanya menyapa sang sopir taksi terlebih dulu.
"Pagi yg cerah bukan?" sambungnya sambil tersenyum.
Lalu bersenandung kecil...

Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dg senang hati, Ia melajukan taksinya.
Sesampainya ditempat tujuan, pemuda itu membayar dg selembar 50 ribuan, untuk argo yg hanya hampir 15 ribu.

"Kembaliannya buat Bapak saja... selamat bekerja Pak.." kata pemuda dg senyum.
"Terima kasih..." jawab Pak sopir taksi dg penuh syukur.

"Wah.. aku bisa sarapan dulu nih..."
Pikir sopir taksi itu. Dan ia pun menuju kesebuah warung.

"Biasa Pak?" tanya si mbok warung.
"Iya biasa. Nasi sayur. Tapi.. Pagi ini tambahkan sepotong ayam " jawab Pak sopir dg tersenyum.

Dan, ketika membayar nasi , ditambahkannya lima ribu rupiah  "Buat jajan anaknya si mbok... " begitu katanya.

Dengan tambahan uang jajan lima ribu, pagi itu anak si mbok berangkat kesekolah dg senyum lebih lebar.

Ia bisa membeli  2 buah roti pagi ini. Dan diberikannya pd temannya yg tidak punya bekal.

Begitulah. Cerita bisa berlanjut. Bergulir seperti bola salju...

Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu. Begitu juga keluarga si mbok. Teman si anak. Keluarga mereka. Semua tertular kebahagiaan.

Kebahagiaan, seperti juga kesusahan, bisa menular pd siapa saja disekitar kita.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Siapkah kita menularkan kebahagiaan hari ini?

Bisa menerima itu adalah Berkah. Tapi bisa memberi adalah Anugerah.

Semoga sisa hidup kita selalu bahagia dan membuat orang lain bahagia dg keberadaan kita.